Friday, February 26, 2016
Pacarku BL, So What?
PACARKU BL; SO WHAT?
Jelaga tak kisahkan siapa aku di sini. Selimut malam, telah
menghabisi sisa siangku dalam buncah raga. Salam-salam mesra membelai nakal.
Dalam kerumunan rerumput hijau yang kupijak dari sudut ke tepi. Bagai
menghitung sisa hari yang entah kapan waktunya.
“Cumbu aku di sini saja …” bisikan rayuan merasuki
pendengaran.
Hatiku yang berlubang membiarkan tiupan angin orange itu
meremas-remas dalam kenikmatan. Aku hanya butuh sesaat atau sekelimat
kumat-kamit demi tambahan untukku kantongi dan bawa pulang.
“Dear … wait?” tanganku memaksamu berhenti.
Tatkala mata-mata kamera memandang penuh keirian. Mereka
ingin mengabadikan momenku dan lelaki yang kupanggil ‘BL’ ;lelaki sementara.
Kenapa aku hanya menganggapnya sementara? Yah, karena kontrak yang mewajibkan
perasaan ini tak berlanjut lebih dalam lagi. Namun aku bisa ke jenjang buku
nikah bila mau. Namun, tidak … aku hanya ingin membalas luka lara dari lelaku
lalu; mantanku.
Ternyata tak kira hanya aku saja, bukan hanya BL saja dan BL
pun akan kalian temukan di bawah rel kereta api ini. Jejak senja membantu
panorama untuk kalian tangkap bila kalian menginginkan. Sebenarnya, aku tak
ingin kalian menjadi manusia kepo dengan segala urusan dosa manusia lainnya.
Namun aku hargai niat baik kalian yang ingin mengingatkan dengan berbagai cara.
Tanpa kalian sadari itu bisa mengancam kenyamanku di sini.
Seperti petang senja lalu. Kalian berpura-pura bergaya untuk
difoto. Sialnya aku yang tahu itu hanya berpura bodoh. Aku tetap menikmati kemesraan
di alam terbuka. Lalu kudengar tawa kalian yang lantang. Aku tidak tuli; teman
seperjuangan. Maafkanlah khilafku yang membuat kalian merasa terganggu.
“Kalau mau ciuman yo mbok cari kamar. Kami tidak masalah
kalian mau gerayakan tapi ngandang jangan di tempat terbuka seperti ini!”
Aku dengar keresahan kalian; teman seperjuangan. Sekali lagi
maafkanlah aku. Membuat nama kita tercoreng arang. Namun, aku sungguh kebelet
dalam rangsangan si lelaki bajingan. Jangan heran kalau aku memanggilnya bajingan.
Yah! Kalau dia lelaki yang baik dan mencintaiku pasti dia tidak akan
mempermalukanku di tempat umum ini; bawah rel kereta api ini. Suara senja
bahkan tak kupedulikan. Saat semuanya diwajibkan bersujud; itu tak terpikirkan
sama sekali.
Bahkan perlu kalian tahu, bukan hanya BL saja masih banyak
puluhan TKW sepertiku yang bercinta dengan orang luar lainnya. Namun media
seakan pilih kasih, kenapa hanya lelaki BL saja yang menjadi sorotan. Kadang
aku ingin marah, namun buat apa. Percuma aku melawan media yang kerap pilih
kasih.
Jangan salahkan cinta tapi salahkan kelakuan kami yang tidak
bisa menjaga maruah harga diri dan bangsa. Aku mengakui, aku dari segelintir
TKW yang suka mencari kerinduan di bawah rel kereta api atau bahkan di bawah
pohon besar, dekat Paya Lebar maupun Kallang. Terima kasih untuk teman-teman
seperjuangan yang mengingatkan kesadisan akibat hubungan terlarang ini. Doakan
aku untuk segera bertaubat.
Namun coba kalian lihatlah, ada temanku yang menikah dengan
BL dan memiliki anak, cinta mereka dibuktikan di agama dan Negara. Jadi jangan
menganggap sebelah mata, ada pasangan TKW-BL yang menikah, ada juga juga yang
hanya jadi pelampiasan nafsu. Sekali lagi kita hanya lakon yang penuh kehidupan
misteri.
Dan bukankah kalian tahu, hidup, mati, rezeki dan jodoh
sudah Allah tentukan. Jika jodohku orang BL karena bertemu di Singapura dimana
aku mengais rezeki, mengapa harus dikucilkan? Mengapa harus menghina pemberiaan
Allah? Aku hanya meminta pada Allah agar memberikan jodoh yang terbaik untukku,
itu saja. Dan semoga pacarku BL adalah lelaki baik dan tidak bersikap bajingan
lagi terhadapku. Karena dalam agamaku, pacaran itu dilarang.
Jika ada kesempatan; berikan aku kesempatan agar bertaubat.
[]
Wednesday, January 27, 2016
TERIMA KASIH DEAR TEMAN-UCU SRI RAHAYU & WINDU LESTARI
Menjadi orang yang dianggap ‘tua’kan
memang tidak mudah. Menjadi orang yang bisa disebut professional juga tidak
segampang tersenyum. Namun tidak berarti aku merasa hebat dan banyak orang yang
harus memujiku. No! No no!
Aku
selalu berusaha menempatkan posisi diri dengan baik. Tidak bisa
mencampurpautkan masalah pribadi ke wadah sosial. Contohnya saja, dalam setiap
acara, jika memang harus ada orang yang tidak kusukai, bukan lantas aku
menghindar. No, bukan sejatiku demikian. Toh, biarlah orang lain menilaiku ini
dengan rasa tanggung jawabku saja dalam bersosial. Karena aku tidak mencari
musuh.
Sebenarnya
juga, aku tidak suka dibilang leader, yah, karena terasa membebani sekali jika
dipikul seorang diri. Bukan karena tidak ada yang membantu namun, urusan dapur
kerap membuatku menahan senyum. Bayang-bayang sabotase dari masa lalu kadang
bisa datang tiba-tiba. Sehingga sulit bagiku untuk mudah membuka lebar-lebar
hatiku. Namun bukan berarti aku menjadi mental yang tertutup. No!
Jika selama ini ada teman yang curhat
soal pribadi, aku selalu berusaha menutup dengan baik. Walau sudah jarang
berjalan bareng bukan berarti juga aku menyebarkan luas. Hanya sesal datang
bila-bila waktu, jika hati mendadak sedih.
Pernah
suatu dulu ada teman yang curhat masalah percintaannya, berbeda agama dan tidak
direstui, memanggilku sebutan ‘Kakak’ tapi entah mengapa mendadak memusuhiku.
Pertanyaan besar bermain di otakku. Tapi biarlah, Allah tidak pernah tidur.
Langit
Allah masih ada, bumi Allah masih bisa dipijak. Aku isi pikiranku dengan
hal-hal yang positif, tanpa perlu memikirkan omongan orang lain. Selagi itu
tidak mengganggu kesehatan mentalku, biarlah mereka pada sibuk sendiri, mencari
cara untuk membuatku jatuh.
Dalam
pandanganku, berteman itu tidak harus pilih-pilih namun harus pandai
memilah-milah, hal-hal yang baik dan buruk dalam berteman. Jangan dimakan
hal-hal yang tidak sehat, sehingga bisa merusak masa depan. Dunia ataupun
akhiratnya juga.
Bila
ada orang yang mengatakan aku baik, bijaksana, dermawan, atau yang baik-baik,
mungkin mereka menilaiku dari segi profesionalnya aku dalam menyelesaikan
tanggung jawab. Bukan karena aku dekat dengannya atau hanya sekadar secangkir
kopi. Tapi murni, aku tidak pernah membeda-bedakan orang dalam berteman.
Ada
kalanya aku harus diam, harus tegas, harus marah, harus odd (maksudnya apa sih
Win? Hehehe), yah begitulah aku dalam berteman. Kalau ada salah dalam mengenal
kalian, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, mumpung masih bisa mengungkapkan
isi hatiku.
Ucu
Sri Rahayu; Kamu tidak perlu menjadi wanita yang kuat sepertiku. Tapi jadilah
dirimu sendiri, yang kelak bisa membahagiakan orang-orang yang kamu sayangi.
Dan Windu Lestari: Terima kasih
banyak, uluran tanganmu, kesabaranmu dalam mengikuti arahanku yang memang juga
bisa membingungkan. Tapi aku tahu, kamu cukup pintar untuk memilah-milah
sehingga bisa menjadikan warna-warni pertemanan ini tetap terjaga indah seperti
pelangi.
Ucu
Sri Rahayu: “Pertama
kenal Anung, dia seperti orang yang judes. Karena kalau melirik tajam, tapi
kalau dah sering ketemu dia baik orangnya bijaksana, dermawan, saya senang
kenal dengannya, saya jadi ada kegiatan baru yang positive yaitu menulis, dan
darinyalah yang memberiku saran positive tentang masalahku, “Nobody else only you do that to me. Thank
you very much, love Ucu.” [Finalist Putri Ungu PDSM 2015]
Windu
Lestari: “Kak
Anung itu fine. Multi talent, mungkin your confident yang membuat talent itu
menjadi multi. At the same time you are so odd. Kadang menjadi leader yang baik
tapi terkadang juga membingungi. Selain aku pribadi di luar sana juga ada
beberapa orang yang mengungkapkan hal yang sama. Tidak suka ditegur di tempat
umum. I meant you are mature enough. Dan malah tidak mengganggu hal-hal yang
lainnya selain dari teguran itu tadi. Kita tetep hangout bareng, masih dalam
acara bareng, and that's good. Its call professional. By the way, you are a
good friend for me so far. Ya cuma itu saja, Kak Anung juga banyak memberi
kontribusi yang positive untuk aku selama berteman. So let me say thanks for
that, mumpung ada momentnya buat ngucapin, haha …. J” [Penulis di Buku Aku Bisa
Karena Aku Wanita]
Love you all. Pesanku, jangan pernah berhenti menulis, entah itu dipublishkan atau dalam catatan diary. Suatu saat, itu akan menjadi kenangan paling indah dalam diri kalian. Melalui proses jemari untuk melukisnya.
Singapura, 27/1/2016
Tuesday, January 26, 2016
KATANYA FOTOGRAFER AMATIRAN
Kemarin saya membaca sebuah peringatan kepada fotografer amatiran. Dimana bisa melumpuhkan fotografer profesional. Tapi, eitt, tunggu dulu. Jangan menyalahkan fotografer amatiran seratus persen. Kenapa saya bilang jangan menyalahkan fotografer amatiran. Yup, pasti saya punya penjelasan yang semoga bisa dipahami oleh semua kalangan lapisan fotografer.
Saya sering ditanyai harga fotografer oleh beberapa kenalan di facebook. Sebagai teman saya pun mencarikan fotografer dan menanyakan harganya. WOW, fantastik, harganya di atas rata-rata $250+ coba bayangin, untuk saya itu pasti mahal. Yah, mungkin karena sudah menamakan dirinya fotografer profesional.
Lalu atas dasar pertimbangan belah pihak yang sepakat, maka tanggung jawab selesai, bila teman sama dan fotografer yang saya rekomendasikan deal harga dan pemotretan, saya sudah lepas tangan. Saya pun tidak meminta komisi karena memberikan pelanggan. Basicnya kembali kepada unsur pertemanan. Saling simbiosis mutualisme. Hehehehe.
Baru-baru ini saya pun ditanyai lagi soal fotografer yang harganya badget sekian $ dan 3 kali foto dengan pose ABC. Karena teman saya sudah mencari ke semua orang yang menamakan dirinya fotografer, lagi-lagi harganya WOW. Karena teman saya punya badget sekian dan bukan untuk acara pribadi, maka saya tawarkan teman saya. Sepakat harga maka tanggung jawab sepenuhnya telah usai. Soal hasil bagus atau jelek, bukan tanggung jawab saya, dong.
Beberapa foto saya kirimkan untuk banding hasilnya dengan fotografer profesional. Kalau pelanggan mau dan setuju, sebagai teman kembali saya merokomendasikan. Deal kesepakatan harga dan persiapan selanjutnya.
Coba kita bayangkan, jika sesama TKW lalu dipatok harga di atas $250+ sebagai sesama TKW nurani saya sedih, nggak kebayang gaji separuh untuk foto-fotoan. Ini ke kontek pribadi yah, bukan untuk dijual nantinya. Kalau dijual pasti lain lagi. Karena sebagai pemegang work permit, sangat ilegal, jadi intinya kerjasama dengan baik bila ingin mendapatkan penghasilan dari gaji pokok kerja. Agar terhindar dari hal-hal diluar dugaan.
Bahkan sempat ada kata nekad. Lalu saya tersenyum geli. Kok yah, bisa menuduh fotografer amatiran ini nekad. Nggak juga kali brosis :) walau fotografer amatiran, kami juga punya badget, kapasitas yang terbuka, bahkan kami tidak menggelar nama fotografer profesional. Malah kami sering diminta untuk memotret momen-momen bahagia. Seperti pernikahan, ulang tahun, model-modelan dan gathering.
Contohnya saya saja nih, jangan jauh-jauh. Motret orang nikahan. Gila, saya saja stress nggak bisa tidur. Saya bukan fotografer tapi diminta memotret orang nikahan. Saya tegaskan, saya nggak nekad. Karena saya udah bantu cari fotografer, yah ... pasti tahu kan, nggak semua TKW seberuntung saya diizinkan off selain hari minggu saja. Dengan rasa kasih sebagai teman, akhirnya saya menyanggupi, walau tanpa perjanjian dibayar sekian. Sebagai teman pasti belakangnya pengertian juga, ngedit foto dan nyuci foto, semua butuh proses tenaga dan biaya.
Mengedit foto atau pengaturan cahaya juga bisa belajar. Bukan berarti harus kursus sekolah fotografer. Kan, nggak. Sama halnya dalam menulis, skill akan berkembang jika setiap hari diolah dan dipraktikan, pasti hasilnya akan bagus jika terus-terusan diasah. Belajar itu universal, luas. Bahkan, saya pun pernah tahu, seorang yang tidak bisa melihat, ia mampu memotret dengan bagus sekali bahkan juga disebut fotografer profesional. Tapi saya lupa namanya, kalau tidak salah, iklan sabun mandi. Menurut dia, memotret itu juga harus punya perasaan bukan sekadar jeprat-jeprettt, bukan karena peralatan foto yang super.
Nah, jadi yang merasa fotografer amatiran melumpuhkan pasaran fotografer profesional, coba dicek kembali dengan kebutuhan pelanggan. Agar tidak ada hiden cost.
Salam damai, kalau ada perkataan yang salah, mohon maaf lahir batin.
Saya sering ditanyai harga fotografer oleh beberapa kenalan di facebook. Sebagai teman saya pun mencarikan fotografer dan menanyakan harganya. WOW, fantastik, harganya di atas rata-rata $250+ coba bayangin, untuk saya itu pasti mahal. Yah, mungkin karena sudah menamakan dirinya fotografer profesional.
Lalu atas dasar pertimbangan belah pihak yang sepakat, maka tanggung jawab selesai, bila teman sama dan fotografer yang saya rekomendasikan deal harga dan pemotretan, saya sudah lepas tangan. Saya pun tidak meminta komisi karena memberikan pelanggan. Basicnya kembali kepada unsur pertemanan. Saling simbiosis mutualisme. Hehehehe.
Baru-baru ini saya pun ditanyai lagi soal fotografer yang harganya badget sekian $ dan 3 kali foto dengan pose ABC. Karena teman saya sudah mencari ke semua orang yang menamakan dirinya fotografer, lagi-lagi harganya WOW. Karena teman saya punya badget sekian dan bukan untuk acara pribadi, maka saya tawarkan teman saya. Sepakat harga maka tanggung jawab sepenuhnya telah usai. Soal hasil bagus atau jelek, bukan tanggung jawab saya, dong.
Beberapa foto saya kirimkan untuk banding hasilnya dengan fotografer profesional. Kalau pelanggan mau dan setuju, sebagai teman kembali saya merokomendasikan. Deal kesepakatan harga dan persiapan selanjutnya.
Coba kita bayangkan, jika sesama TKW lalu dipatok harga di atas $250+ sebagai sesama TKW nurani saya sedih, nggak kebayang gaji separuh untuk foto-fotoan. Ini ke kontek pribadi yah, bukan untuk dijual nantinya. Kalau dijual pasti lain lagi. Karena sebagai pemegang work permit, sangat ilegal, jadi intinya kerjasama dengan baik bila ingin mendapatkan penghasilan dari gaji pokok kerja. Agar terhindar dari hal-hal diluar dugaan.
Bahkan sempat ada kata nekad. Lalu saya tersenyum geli. Kok yah, bisa menuduh fotografer amatiran ini nekad. Nggak juga kali brosis :) walau fotografer amatiran, kami juga punya badget, kapasitas yang terbuka, bahkan kami tidak menggelar nama fotografer profesional. Malah kami sering diminta untuk memotret momen-momen bahagia. Seperti pernikahan, ulang tahun, model-modelan dan gathering.
Contohnya saya saja nih, jangan jauh-jauh. Motret orang nikahan. Gila, saya saja stress nggak bisa tidur. Saya bukan fotografer tapi diminta memotret orang nikahan. Saya tegaskan, saya nggak nekad. Karena saya udah bantu cari fotografer, yah ... pasti tahu kan, nggak semua TKW seberuntung saya diizinkan off selain hari minggu saja. Dengan rasa kasih sebagai teman, akhirnya saya menyanggupi, walau tanpa perjanjian dibayar sekian. Sebagai teman pasti belakangnya pengertian juga, ngedit foto dan nyuci foto, semua butuh proses tenaga dan biaya.
Mengedit foto atau pengaturan cahaya juga bisa belajar. Bukan berarti harus kursus sekolah fotografer. Kan, nggak. Sama halnya dalam menulis, skill akan berkembang jika setiap hari diolah dan dipraktikan, pasti hasilnya akan bagus jika terus-terusan diasah. Belajar itu universal, luas. Bahkan, saya pun pernah tahu, seorang yang tidak bisa melihat, ia mampu memotret dengan bagus sekali bahkan juga disebut fotografer profesional. Tapi saya lupa namanya, kalau tidak salah, iklan sabun mandi. Menurut dia, memotret itu juga harus punya perasaan bukan sekadar jeprat-jeprettt, bukan karena peralatan foto yang super.
Nah, jadi yang merasa fotografer amatiran melumpuhkan pasaran fotografer profesional, coba dicek kembali dengan kebutuhan pelanggan. Agar tidak ada hiden cost.
Salam damai, kalau ada perkataan yang salah, mohon maaf lahir batin.
Saturday, January 23, 2016
TERIMA KASIH TEMAN-DEAR YULI ENDANG ASTUTI
Yuli Endang Astuti: “Orangnya kreatif, mandiri dan percaya diri
dengan ke-kreatifannya. Tegas walau kadang terkesan galak bagiku (aku punya rasa
takut yang amat sangat ketika ada orang bicara keras, bertengkar apalagi berkelahi),
kadang terkesan sensitif. Kalau masalah baik hati, tidak sombong atau apalah
lainnya, kayanya hampir semua orang akan berkata seperti itu kalau ditanya
pendapat tentang diri kita.” [Ratu Pintar dan Karisma; Ratu Pahlawan Devisa
Singapura 2016]
Memilik teman dari berbagai suku bangsa dan budaya. Tidak
ada masalah bagiku. Teman yang juga berpengaruh dalam perjalanan kisahku di
Singapura ini dari Jawa Barat. Aku mengenal dia saat pembuatan buku pertama
PDSM Pahlawan Devisa Singapura Bersyair. Melalui karya puisi-puisi dia.
Aku tidak terlalu banyak tahu tentang kesibukan dia di hari minggu, tapi kami sering terlibat dalam kegiatan bersama. Dia pendiam, kalau tidak ada kepentingan yang serius. Dan juga, dia bisa dimintai tolong. Misalnya kalau ada yang perlu ditransfer, atau membantu sesuatu, jika dia bisa pasti akan membantu.
Aku tidak terlalu banyak tahu tentang kesibukan dia di hari minggu, tapi kami sering terlibat dalam kegiatan bersama. Dia pendiam, kalau tidak ada kepentingan yang serius. Dan juga, dia bisa dimintai tolong. Misalnya kalau ada yang perlu ditransfer, atau membantu sesuatu, jika dia bisa pasti akan membantu.
Selama berteman dengannya, Yulia ini tidak banyak membuat
hatiku gedeg. Cepat tanggap dan mudah
diajak berembug. Yang aku tahu, dia juga nyambi belajar di Universitas Terbuka
Singapura. Ngakunya dia kenal aku sejak di Paket C J itu berarti udah jadul
sekali. Hobby ikut fesyen tapi jarang
sekali menang. Tapi tidak memudarkan semangatnya.
Kadang kalau lagi asik ngerumpi di grup, aku sering lupa
pakai bahasa Jawa, sedangkan dia kadang manggut-manggut kaya paham saja. Itulah
yang aku rasakan selama berteman dengan dia, yang orangnya jujur dan terbuka.
Karena dia tahu mungkin, kalau aku lebih suka orang yang jujur ketimbang banyak
alasan.
Saat dia pamit dari grup Menari PDSM dan mau ikut nari di
grup lain, aku pun mempersilakan dengan hati terbuka. Memang PDSM bukan grup yang
mengikat anggotanya. PDSM terbuka bagi siapa saja yang mau ikut dan latihan.
Ketika saat mencari tiga penari, aku pun tanya pada dia.
Karena nggak masuk audisi fesyen. Apakah
masih dengan grup tersebut? Karena sejak dia pamit, aku tidak pernah melihat dia
bergabung sama grup tersebut. Akhirnya dia mau diajak lagi menari dengan PDSM
dan melengkapi jumlah 8 orang penari yang tampil di acara Fiesta POSTKI.
Aku suka mengenal dia selama ini, tidak pernah atau mungkin
belum berbohong sama aku. Jika dia tidak bisa latihan atau tidak bisa ngumpul,
pasti akan memberitahu jauh-jauh hari. Dan dia orangnya bukan tipe yang suka
seenaknya membatalkan omongan alias janji.
Terima kasih Yulia, telah melengkapi warna-warni kisahku di
Negeri Singa ini. Mohon maaf lahir batin, untuk salah-salahku padamu. Big hug.
Terus lanjutkan kuliahnya/belajarnya, jangan dibuat mainan walau majikan yang
bayarin hehehehe. Jadilah salah satu kembali TKW Singapura yang menyandang
gelar sarjana.
Semangat!!!
Singapura, 23/1/2016
Friday, January 22, 2016
TERIMA KASIH TEMAN-DEAR TUTI HARTATI (MONI PIA)
Moni Pia: “Anung itu orangnya sebenarnya cute dan ramah.
Tapi kadang-kadang acuh juga. Sebenarnya baik hati, kreatif dan tegas, tapi
kadang-kadang sulit untuk menerima pendapat orang lain. Intinya saya tidak
menyesal mengenal dengan Mbak Anung,
saya banyak belajar darinya.” [Pernah menjuarai event menulis di grup PDSM-Grup
Nari PDSM]
Aku mengenalnya melalui grup PDSM. Ku perhatikan ia bisa
dibilang berbakat dalam menulis. Terbukti pernah menjuarai beberapa latihan
menulis di PDSM. Bermodalkan ketikan di inbok, ia bisa merangkum cerpen maupun
puisi. Dan tergabunglah ia dalam kontributor Ungu Bercerita.
Awal pertemuan saat pengambilan foto di Vivo City. Kami
bersama teman lainnya, makan-makan dan ngobrol bersama. Aku yang tidak suka basi-basi
pun cepat nyambung. Seiring waktu berjalan, aku semakin mengenali karakternya.
Pendiam memang dan manutan, tapi punya kebaikan hati dan pendirian.
Saat mendengar info resmi audisi POS TKI, spontan aku ajak
ia untuk ikutan audisi karena kata pihak penganjur Pos Tki, lebih banyak orang
lebih baik untuk kumpulan penari. Namun, lagi-lagi, aku yang super penuh
imajinasi, punya pilihan lain. Ingin membawa PDSM pada jalur sesuai yaitu yang
berhubungan dengan menulis.
Akhirnya, ia masuk menjadi pengiring tarian. Ia tak menari
saat audisi melainkan membaca puisi;
What I’ve done
Hiii ratu pahlawan devisa
Kami bekerja, belajar dan berkarya
Membangun dan menimba ilmu
Untuk negeri kami tercinta
Bersama Pos Tki
And What I have done
Setumpuk prestasi bukan menyombongkan diri
Tiada batas umur meraih mimpimimpi
Bersama pahlawan devisa singapura
Aku, kamu, kita pasti bisa!
Pulang membawa bekal ilmu dan bekal diri
Majulah para TKI!
Tidak mengharapkan masuk final, namun hanya kesempatan bisa
masuk final. Dengan proses yang tidak mudah. Awalnya, grup PDSM akan
digabungkan dengan salah satu grup yang lolos juga, karena terjadi kekeliruan
orang audisi. Tentu saja bagi PDSM tidak masalah mau berkolaborasi dengan
sesiapa saja. Namun keputusan akhir, kami tidak jadi digabungkan karena suatu
alasan yang kami pun paham. Termasuk kesulitan untuk latihan.
Sebagai solusinya PDSM harus mencari 3 orang lagi penari.
Secara tidak langsung, Moni harus ikut menari. Ada rasa khawatir dalam hatiku,
apakah ini orang bisa menari. Aku pun percayakan diri sendiri, ia pasti bisa,
aku akan mengajarinya. Dan berjalanlah waktu mencari-cari 3 orang yang mau
diajak gabung. Alhamdulillah, mendapatkan orang yang mau ikut menari.
Dan kembali ke Moni, memang tidak bisa dikatakan 80% bisa
melenggang gemulai ala penari, tapi usahanya di dalam grup sangat aku hargai.
Dari menegaskan ia untuk izin pada majikan libur tiap minggu setengah hari saja
untuk latihan. Yah, membuahkan hasil. Sampai kami bisa berada di hari puncak
persembahan. Adalah perjuangan.
Terima kasih Moni, atas kerja kerasmu di grup PDSM dan mohon maaf lahir batin, jika selama menganalmu, aku banyak kata-kata tegas yang melukai hatimu. Terus menulis yah, kalau ada yang belum tersampaikan, keluarkanlah unek-unekmu. I love you.
Singapura, 22/1/2016
~**~
Thursday, January 21, 2016
TERIMA KASIH TEMAN-DEAR CICIK SUBANDINI
Cicik Subandini: “Anung D’Lizta, memang songong sitik, somplak
kadang-kadang dan keras kepala juga ono. Apa adanya malah kadang terlalu, kalau
buat orang yang nggak ngerti sifatnya mesti langsung tersinggung. Berbakat, telaten, tanggung jawab dan punya
prinsip, juga ringan tangan.” [Pernah menjuarai beberapa event di grup PDSM]
Mengenalmu adalah
anugerah. Dari teman dan teman hingga saling mengenal dengan sebutan teman,
entah itu nyata atau bukan. Atau bahkan hanya sekadar teman maya belaka. Namun
ada darimu yang ingat dalam relung hatiku. Ketika tahun berganti tahun selama
melihat rupamu nan tidak begitu ayu. Tetapi ada parasmu yang menunjukkan daya
tarikanmu. Adalah kamu yang apa adanya kamu dalam berteman denganku.
Bisa dibilang bangga
atau GR-aku selama ini memperhatikan jalan kariermu sebagai TKW Singapura juga
penyanyi. Ah, kalau ingat dulu-dulu, dia adalah jebolan dari grup facebook
kecil yaitu Pahlawan Devisa Singapura dalam bidang menyanyi. Kini namamu
semakin melebar seantreo dunia maya. Bakatmu terasah dan semakin tajam, tak
pantang perjuangan.
Berkat keberanian serta
bakat yang mumpuni berbagai audisi menyanyi lebih luas lagi, kamu jalani.
Alhamdulillah, banyak kesempatan yang diraihnya. Dari audisi Home Got Talent
sesi ke-3, FAST We Got Talent Too, dan juga Audisi Fiesta Post Tki, yang lalu
mengantarkanmu pada tingkat lebih jauh lagi. Go masuk teve Suria. Bahkan aku
juga mengiringi perjalananmu itu.
Selain menyanyi, yang
kuingat darimu adalah prasasti yang pernah kamu ukir dalam buku MSB. Meski kini
jarang melihatmu melukis kanvas putih, dan di situlah aku merasakan kehilangan
teman sepertimu. Semakin jarang melihatmu menari jemari, aku merasa tak
mengenalimu lagi. Kamu semakin jauh berlayar hingga waktu tak menyempatkanmu
mampir walau sebentar.
Tapi tidak mengapalah,
asalkan ada bagian cerita yang indah di antara kita maupun duka, dalam hatiku
sangat merasa kehilanganmu tapi bayangmu senantiasa ada membingkai. Terima
kasih telah menjadi teman baikku di Singapura.
GUMAMANKU
Apa ini...?
Bagaimana ini ...?
Ada yang hilang darimu
Pertiwiku
Tak lagi sama
Dulu,
Kain batik
Kain ikat
Kain songket
Kain gringsing
Satu ikatan
Menyatu dalam perbedaan
Terayomi kehangatan
pelukan para TNI
Bangsapun dengan gagah
Tiada gentar
Tak hanya
mengumandangkan
Namun menerapkan isi
Sumpah Pemuda
Bukan hanya hafalan
anak-anak Sekolah Dasar saja
Apa ini ..?
Bagaimana ini ..?
Hanya mampu
bertanya-tanya
Dalam bilik sempit
Diatas ranjang bobrok
Berselimutkan batik
lusuh
Peninggalan nenekku
Apa ini ..?
Bagaimana ini ..?
Singapura , 26 Oktober
2014
~**~
GOYANGAN JAMU METAL
PENULIS: CICIK SUBANDINI
Dingin masih terasa menusuk tulang, disaat aku
turun dari angkutan umum jurusan Ambarawa - Bandungan. Kugendong bakul jamuku,
melangkah dengan penuh harap, jamuku laris dan bisa pulang cepat.Terbayang
wajah putriku yang masih belum genap 1 tahun. Penyemangat hidup, yang membuat
kakiku tak lelah 'tuk melangkah. Dengan bersenandung kecil,aku memasuki kampung
dimana aku biasa berkeliling menjajakan daganganku. Ada juga keuntungan
mempunyai hobby menyanyi, setidaknya bisa menghibur diri sendiri. Langkahku dan
senandungku serentak berhenti, disaat aku mendengar suara memanggilku.
"Dik, Jamu..!! "
[Buku Membangun Semangat Berkarya-2015]
#Ahh, aku rindu goresan jemarimu. Mohon maaf lahir dan batin. []
MASIHKAH AKU MENJADI PENANTANG MIMPI?
Semalam, 20 Januari 2016 aku mengirimkan pertanyaan untuk meminta pendapat kejujuran dari beberapa teman-teman yang aku anggap sangat berpengaruh besar dalam prosesnya aku di sini. Memang sangat mencekam seperti ikutan uji nyali di tempat-tempat angker. Ah, bukankah kejujuran itu kadang menyakitkan, tapi tidak apalah, aku lakoni saja.
Sambil menunggu jawaban kejujuran teman-teman aku sambi menulis untuk dikirim ke beberapa lomba. Gusar hatiku sampai-sampai rasa lapar naik tiga kali lipat. Baru menulis judul naskah, perutku bergoyang ria. Akhirnya kuangkat pantat dan menuju ke dapur. Tidak ada makanan ringan yang bisa kucemil, hanya ada buah plam. Ah, itupun tak mengapa.
Aku kembali ke kamar. Mengintip layar facebook, harap-harap cemas membaca jawaban kejujuran dari teman-teman yang sudi jujur padaku. Ada yang memberikan jawaban kejujuran pendek, panjang, bahkan sampai ada yang terklepek-klepek karena kupanggil 'dear', ternyata sebutan itu juga berpengaruh. Dan aku ada sempat membalas jawaban kejujuran dari salah satu admin PDSM. Sebut saja namanya 'W' kami berinteraksi karena aku paham siapa dia, yang cukup bisa atraktif dalam berpendapat.
Seperti ada rasa nyeri, tapi tidak apa-apalah, toh aku sendiri yang meminta kejujuran :) Usut-diusut, waktu terus bergulir, hingga aku ketinggala satu deatline lomba puisi, ahhh, sialan, aku terlalu menyepelekan kata 'nanti' dan 'nanti', dan akhirnya aku ketinggalan.
Baiklah, terlepas membahas lomba, aku ingin mengatakan pada teman-temanku semuanya. Sisi-sisi dalam diriku baik maupun buruk, pasti selalu ada, karena aku bukanlah manusia suci atau manusia sempurna. Aku kadang pun merasa aneh dengan diri sendiri, atau mungkin sulit percaya pada seseorang, hingga ada yang beranggapan, "I can do it". Sehingga apa pun yang kulakukan, dianggapnya, semuanya sendiri. Ih, tidak apalah, aku memang tidak sedang berlomba-lomba mencari pengalaman, hanya silahturahmi dan bentuk kerjasama yang baik, toh rasanya memang penuh tantangan dan pengorbanan.
Aku menatap kalender di HP jadulku. Ah, hari-hari itu semakin dekat sekali. Aku harus meninggalkan Singapura, as soon as posible, hehehhe. Sedih pastinya, namun bahagia diharapkan. Semua urusan dengan teman-teman bisa aku selesaikan dengan baik dan tanpa meninggalkan tanggungan itu yang aku harapkan. Bahkan aku bertanya pada teman yang ngutangin pulsa/online shop, jika aku masih punya tanggungan harap diingatkan. Aku ingin pulang tanpa beban hutang atau ada tanggungan yang belum terselesaikan.
Untuk teman-temanku di Singapura, ayoklah MENULIS, jangan MATI JEMARI. Dikoordinir lebih baik lagi PDSM agar terus HIDUP. Aku pasti akan sangat bersedih jika dunia literasi TKW Singapura pupus, tanpa penerus yang lebih baik dan lebih ulet daripada aku. Jangan pernah terus mengukir karya. Aku memohon kesadaran hati teman-teman. Kalian, pasti bisa. Jangan merasa puas dengan satu hasil, terus jadi orang yang tidak pernah puas dalam berkarya. Namun jangan lupa tetap bersyukur. Mintalah pada Tuhan, agar mengingatkan hati dan pikiran kita untuk suatu kebaikan.
Insya Allah, jika aku sudah di Indonesia dan membina keluarga mungil, aku ada untuk kamu. Pokoknya, inisitif tidak melulu bertanya dan bergantung pada orang lain. You can do it, girls. I believe.
Terima kasih telah menjadi bagian hidupku. I love you.
Sambil menunggu jawaban kejujuran teman-teman aku sambi menulis untuk dikirim ke beberapa lomba. Gusar hatiku sampai-sampai rasa lapar naik tiga kali lipat. Baru menulis judul naskah, perutku bergoyang ria. Akhirnya kuangkat pantat dan menuju ke dapur. Tidak ada makanan ringan yang bisa kucemil, hanya ada buah plam. Ah, itupun tak mengapa.
Aku kembali ke kamar. Mengintip layar facebook, harap-harap cemas membaca jawaban kejujuran dari teman-teman yang sudi jujur padaku. Ada yang memberikan jawaban kejujuran pendek, panjang, bahkan sampai ada yang terklepek-klepek karena kupanggil 'dear', ternyata sebutan itu juga berpengaruh. Dan aku ada sempat membalas jawaban kejujuran dari salah satu admin PDSM. Sebut saja namanya 'W' kami berinteraksi karena aku paham siapa dia, yang cukup bisa atraktif dalam berpendapat.
Seperti ada rasa nyeri, tapi tidak apa-apalah, toh aku sendiri yang meminta kejujuran :) Usut-diusut, waktu terus bergulir, hingga aku ketinggala satu deatline lomba puisi, ahhh, sialan, aku terlalu menyepelekan kata 'nanti' dan 'nanti', dan akhirnya aku ketinggalan.
Baiklah, terlepas membahas lomba, aku ingin mengatakan pada teman-temanku semuanya. Sisi-sisi dalam diriku baik maupun buruk, pasti selalu ada, karena aku bukanlah manusia suci atau manusia sempurna. Aku kadang pun merasa aneh dengan diri sendiri, atau mungkin sulit percaya pada seseorang, hingga ada yang beranggapan, "I can do it". Sehingga apa pun yang kulakukan, dianggapnya, semuanya sendiri. Ih, tidak apalah, aku memang tidak sedang berlomba-lomba mencari pengalaman, hanya silahturahmi dan bentuk kerjasama yang baik, toh rasanya memang penuh tantangan dan pengorbanan.
Aku menatap kalender di HP jadulku. Ah, hari-hari itu semakin dekat sekali. Aku harus meninggalkan Singapura, as soon as posible, hehehhe. Sedih pastinya, namun bahagia diharapkan. Semua urusan dengan teman-teman bisa aku selesaikan dengan baik dan tanpa meninggalkan tanggungan itu yang aku harapkan. Bahkan aku bertanya pada teman yang ngutangin pulsa/online shop, jika aku masih punya tanggungan harap diingatkan. Aku ingin pulang tanpa beban hutang atau ada tanggungan yang belum terselesaikan.
Untuk teman-temanku di Singapura, ayoklah MENULIS, jangan MATI JEMARI. Dikoordinir lebih baik lagi PDSM agar terus HIDUP. Aku pasti akan sangat bersedih jika dunia literasi TKW Singapura pupus, tanpa penerus yang lebih baik dan lebih ulet daripada aku. Jangan pernah terus mengukir karya. Aku memohon kesadaran hati teman-teman. Kalian, pasti bisa. Jangan merasa puas dengan satu hasil, terus jadi orang yang tidak pernah puas dalam berkarya. Namun jangan lupa tetap bersyukur. Mintalah pada Tuhan, agar mengingatkan hati dan pikiran kita untuk suatu kebaikan.
Insya Allah, jika aku sudah di Indonesia dan membina keluarga mungil, aku ada untuk kamu. Pokoknya, inisitif tidak melulu bertanya dan bergantung pada orang lain. You can do it, girls. I believe.
Terima kasih telah menjadi bagian hidupku. I love you.
Wednesday, January 20, 2016
Tentang Persiapan Tari Tualang Tiga #FIESTAPOSTTKI
About Us.
Saya rasa ini bukan suatu kegelisahan. Melainkan suatu rasa yang sulit dijabarkan. Bagaimana tidak, kami bukanlah sebuah kumpulan penari yang pandai. Terlebih kami berlatih sendiri. Itulah kami dari grup Ratu Pahlawan Devisa Singapura, dimana kami basicnya adalah menulis. Namun suatu cabaran untuk melangkah keluar zona aman. Turut andil dalam audisi #fiesta PosTki pada bulan Oktober 2015.
Suatu keberuntungan bahwa grup kami (PDSM) bisa lolos ke babak final, dimana jenis tarian baru diberikan kepada kami. Perjuangan serta pengorbanan, waktu, materi dan tenaga kami curahkan sepenuhnya untuk kelancaran di atas panggung.
Tepatnya pada tgl 13 Desember 2015 kami baru didengarkan musik yang akan kami bawakan yaitu; Tari Tualang Tiga. Awalnya saya merasa tidak kesulitan karena sebelumnya, lagu tersebut akan kami persembahan pada saat audisi, namun karena suatu sebab maka saya putuskan menari What I've Done versi remix. Dengan original 4 penari dan 1 baca puisi. Lucu sih, awal komentar kami terkesan norak kaya hantu, namun itu bisa menjadi jargon semangat kami. Bahwa kami tidak gentar dikomentari apa pun itu.
Beberapa gerakan sempat ditolak, kami berpikir cepat dan mengenali musiknya terlebih darhulu sebelum akhirnya kami bisa menari dengan lebih baik. Musik baru dan pemikiran baru. Dan tgl 20 Desember 2015 waktu rehersal di Kembangan CC, kami persiapkan sebaik mungkin. Walau kami siap tidak siap, karena saya juga tidak pernah latihan karena musik tidak punya, hanya melalui vidio yang musiknya kurang jelas.
Kami berkumpul di Kembangan CC pagi sekali sekitar pukul jam 8am, kami bermake-up dan sedikit melakukan pemanasan. Rehersal berjalan dengan baik walau masih ada beberapa gerakan dadakan yang belum kami kuasai. Sehingga saat ada istrirahat kami berlatih di luar ruangan. Lelah, lapar, pusing, ngantuk menjadi satu. Sehingga salah satu teman kami membeli kopi :)
Melalui rehersal itulah, kamu mantapkan gerakan dan barisan. Bisa tidak bisa kami belajar semaksimal mungkin. Apalagi nanti hasilnya akan dilihat orang banyak di kaca televisi lokal Singapura. Dan itulah yang saya harapkan, teman-teman bisa kompak, bila ada masalah belum jelas, bisa diutarakan agar tidak terjadi salah paham.
Dengan selesainya persembahan PDSM; Tari Tualang Tiga dengan penyanyi; Tian Dewi Susanti, Cicik Subandini dan Noer Vian, akan menjadi catatan sejarah baru awal mula TKW Singapura semakin kompak dan bekerjsama dengan baik. Bisa menjadi contoh baik untuk re-generasi teman-teman dalam berkarya. Tanpa adanya kekompakan, tidak akan terjalin keharmonisan di depan panggung.
Jujur, hati saya berdebar ingin melihat bagaimana penampilan kami di kaca televisi Suria pada, 22 Januari 2016 pukul 8.30pm. Jangan lupa nantikan kami. Dan tunggu bagaimana kisah di balik panggung.
:)
Salam perubahan untuk kebaikan;
Anung D'Lizta
Saya rasa ini bukan suatu kegelisahan. Melainkan suatu rasa yang sulit dijabarkan. Bagaimana tidak, kami bukanlah sebuah kumpulan penari yang pandai. Terlebih kami berlatih sendiri. Itulah kami dari grup Ratu Pahlawan Devisa Singapura, dimana kami basicnya adalah menulis. Namun suatu cabaran untuk melangkah keluar zona aman. Turut andil dalam audisi #fiesta PosTki pada bulan Oktober 2015.
Suatu keberuntungan bahwa grup kami (PDSM) bisa lolos ke babak final, dimana jenis tarian baru diberikan kepada kami. Perjuangan serta pengorbanan, waktu, materi dan tenaga kami curahkan sepenuhnya untuk kelancaran di atas panggung.
Tepatnya pada tgl 13 Desember 2015 kami baru didengarkan musik yang akan kami bawakan yaitu; Tari Tualang Tiga. Awalnya saya merasa tidak kesulitan karena sebelumnya, lagu tersebut akan kami persembahan pada saat audisi, namun karena suatu sebab maka saya putuskan menari What I've Done versi remix. Dengan original 4 penari dan 1 baca puisi. Lucu sih, awal komentar kami terkesan norak kaya hantu, namun itu bisa menjadi jargon semangat kami. Bahwa kami tidak gentar dikomentari apa pun itu.
Beberapa gerakan sempat ditolak, kami berpikir cepat dan mengenali musiknya terlebih darhulu sebelum akhirnya kami bisa menari dengan lebih baik. Musik baru dan pemikiran baru. Dan tgl 20 Desember 2015 waktu rehersal di Kembangan CC, kami persiapkan sebaik mungkin. Walau kami siap tidak siap, karena saya juga tidak pernah latihan karena musik tidak punya, hanya melalui vidio yang musiknya kurang jelas.
Kami berkumpul di Kembangan CC pagi sekali sekitar pukul jam 8am, kami bermake-up dan sedikit melakukan pemanasan. Rehersal berjalan dengan baik walau masih ada beberapa gerakan dadakan yang belum kami kuasai. Sehingga saat ada istrirahat kami berlatih di luar ruangan. Lelah, lapar, pusing, ngantuk menjadi satu. Sehingga salah satu teman kami membeli kopi :)
Melalui rehersal itulah, kamu mantapkan gerakan dan barisan. Bisa tidak bisa kami belajar semaksimal mungkin. Apalagi nanti hasilnya akan dilihat orang banyak di kaca televisi lokal Singapura. Dan itulah yang saya harapkan, teman-teman bisa kompak, bila ada masalah belum jelas, bisa diutarakan agar tidak terjadi salah paham.
Dengan selesainya persembahan PDSM; Tari Tualang Tiga dengan penyanyi; Tian Dewi Susanti, Cicik Subandini dan Noer Vian, akan menjadi catatan sejarah baru awal mula TKW Singapura semakin kompak dan bekerjsama dengan baik. Bisa menjadi contoh baik untuk re-generasi teman-teman dalam berkarya. Tanpa adanya kekompakan, tidak akan terjalin keharmonisan di depan panggung.
Jujur, hati saya berdebar ingin melihat bagaimana penampilan kami di kaca televisi Suria pada, 22 Januari 2016 pukul 8.30pm. Jangan lupa nantikan kami. Dan tunggu bagaimana kisah di balik panggung.
:)
Salam perubahan untuk kebaikan;
Anung D'Lizta
Tuesday, October 27, 2015
BEKERJA, BELAJAR DAN BERKARYA-POS TKI UNTUK TKI
Minggu, 25 Oktober 2015 bertempat di Kampung Kembangan CC
Pos TKI kembali menggelar acara pementasan untuk para Tenaga Kerja Indonesia di
Singapura. Acara yang diberia nama Fiesta Pos Tki ini dihadiri oleh ratusan TKW
Singapura. Tahun ini Pos Tki menyuguhkan acara yang lain daripada sebelumnya.
Selain acara audisi persembahan dari peserta semuanya TKW, acara puncak akan
diselenggarakan di stasiun TV tempatan Singapura pada tanggal 17 Januari 2016.
Selain bekerja dan belajar, para TKW ini juga bisa
menunjukan bakat-bakat yang ada, seperti menyanyi, menari, fashion dan masih
banyak lagi lainnya. Semangat para TKW ini memang harus diapresiasi bersama dan
melihatkan sisi-sisi positf dari Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri.
Mereka bisa menunjukan pada dunia bahwa selain bekerja,
namun mereka memanfaatkan hari liburnya untuk aktifitas yang lebih bermanfaat.
Kesempatan baik di hari libur untuk menimba ilmu dan menambah pengalaman selama
mereka bekerja jauh dari keluarga. Sehingga kelak kontrak selesai mereka tidak
ragu lagi untuk pulang dan bisa membuka usaha.
Pos TKI adalah jasa pengiriman barang ke Indonesia. Sudah
lebih dari sepuluh tahun Pos TKI membantu para TKI di Singapura dalam
mengirimkan barang ke kampung halaman. Kepercayaan yang luar biasa dan bisa
dipercaya.
Terima kasih untuk Pos Tki yang selalu menyediakan ruang untuk para TKW Singapura berkarya.
Terima kasih untuk Pos Tki yang selalu menyediakan ruang untuk para TKW Singapura berkarya.
What I’ve done
Hiii ratu pahlawan devisa
Kami bekerja, belajar dan berkarya
Membangun dan menimba ilmu
Untuk negeri kami tercinta
Bersama Pos Tki
Hiii ratu pahlawan devisa
Kami bekerja, belajar dan berkarya
Membangun dan menimba ilmu
Untuk negeri kami tercinta
Bersama Pos Tki
And What I have done
Setumpuk prestasi bukan menyombongkan diri
Tiada batas umur meraih mimpimimpi
Bersama pahlawan devisa singapura
Aku, kamu, kita pasti bisa!
Pulang membawa bekal ilmu dan bekal diri
Majulah para TKI!
~*~
Tunggu apalagi,
Jangan ragukan lagi
Pos Tki semakin di hati
Menjadi pilihan paling baik
Setumpuk prestasi bukan menyombongkan diri
Tiada batas umur meraih mimpimimpi
Bersama pahlawan devisa singapura
Aku, kamu, kita pasti bisa!
Pulang membawa bekal ilmu dan bekal diri
Majulah para TKI!
~*~
Tunggu apalagi,
Jangan ragukan lagi
Pos Tki semakin di hati
Menjadi pilihan paling baik
Singapura__Indonesia
Berlayarlah kapal sampai tujuan
Kirimkan barang tanpa menunggu bulan
Sampai di depan rumah hati gembira
Nomor teleponnya jangan terlupa
62974805
Berlayarlah kapal sampai tujuan
Kirimkan barang tanpa menunggu bulan
Sampai di depan rumah hati gembira
Nomor teleponnya jangan terlupa
62974805
Salam Sukses Selalu.
Anung D’Lizta
Koordinir Grup Pahlawan Devisa Singapura Menulis
Monday, September 14, 2015
BATIK BREBES HIDUPKAN INDONESIA DI SINGAPURA
BATIK BREBES HIDUPKAN INDONESIA DI SINGAPURA
Bagi pecinta batik Indonesia, memang tidak asing lagi.
Pagelaran fashion dengan tema batik sangat disukai oleh orang Indonesia maupun
mancanegara. Seperti Juniar Hairudin yang menggelar event pada 13 September
2015 bertempat di Siglap South Community Centre berhasil dimeriahkan oleh peserta
lomba Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dalam sektor rumah tangga.
Acara tersebut juga didukung oleh Bupati Brebes Hj Idza
Priyanti SE memberikan dukungan sepenuhnya atas terselenggaranya acara tersebut.
Mrs. Sabrina Samri; Mrs Malays International 2015. Linda Ma'arof; Mrs Singapore Malays International 2015. Saripa
Atmari; Ms Singapore Malays Internatiomal 2014 dan juga Ibu Julia Jahya mantan
artis dan model Indonesia serta Ibu Widi Purnomowulan dari Persatuan Wanita
Indonsia Singapura.
Dukungan dari jasa
pengiriman barang Pos TKI, 2A Dream Publishing, Toa Payoh West CC, serta
sederet komunitas maupun persatuan pendukung acara JUNIAR HAIRUDIN COLLECTION
EVENT.
Acara digelar mulai dari pukul 11 pagi disaksikan ratusan Tenaga Kerja Indonesia di Singapura. Kemeriahan pameran batik show juga menampilkan lagu-lagu kenangan era 80-an oleh peserta lomba karaoke. Tak meninggalkan teman-teman muslimah, pada hari itu juga diadakan lomba fashion tema muslimah.
Terlihat antusias dari semua peserta lomba. Moment yang
dinanti-nantikan hampir tiga bulan persiapan merancang kreatifitas batik
Brebes-Salem. Kreatifitas dan bakat yang harus dibanggakan dalam mencintai
batik Indonesia. Dari 40 peserta batik Brebes menghidupkan panggung Siglap South
Community Centre.
Dengan semakin banyaknya fashion-fashion yang membawa tema
CINTA INDONESIA diharapkan bisa menghidupkan kearifan budaya Indonesia di Negara
lain, bukan hanya di Singapura saja. Di Indonesia pun harus tahu bahwa di luar
negeri batik pun sangat dicintai.
Semoga karya-karya para Pahlawan Devisa Singapura bisa dikenal di Indonesia juga bukan hanya saja di Singapura saja. Karena di hari libur mereka para TKW Singapura bisa berkarya dan membawa nama harum Indonesia, sehingga masyarakat di Indonesia perlu tahu hal-hal positif dari anak bangsa Indonesia di luar negeri.
Juara 1 Quenn of Batik Brebes 2015 ialah Dina Mariati, TKW
Singapura asal Jawa Timur. Bagi Tasya (nama akrabnya) bukan hal baru lagi
mengikuti ajang fashion di Singapura. Ia sering mengikuti pelbagai lomba
fashion dan sering menggondol penghargaan.
“Banyak hal yang harus saya
utarakan, bukan cuma saya ikut berpartisipasi di fashion. Tapi saya sangat mencintai
Indonesia dan budaya Indonesia salah satunya Batik. Senang sekali bangga tentunya
bisa memenangkan Ratu Batik dan saya ingin generasi penerus nanti ikut
melestarikan batik dan mengembangkan. Membuat batik membutuhkan waktu sekitar 10-15
hari dan bukanlah waktu yang tidak lama maka dengan ini patut kita banggakan. Kembangkan,
lestarikan, pamerkan dan pegang supaya budaya batik tidak diambil alih oleh
negara asing karena batik sudah ada yang mengcopy di negara lain dan yang
paling menyolok dan kelihatan aslinya adalah batik dari Indonesia.”
Ucap Tasya.
Diharapkan banyak media-media
yang melirik kegiatan positif TKW di luar negeri bukan hanya di Singapura saja,
supaya budaya Indonesia bisa dilihat dan dilestarikan bersama. (Singapura,
14/9/2015)
Thursday, April 16, 2015
KESEMPATAN ITU ADA JIKA BERUSAHA
15 April 2015, kedua langkah siap untuk menuju ke KBRI Singapura. Ditemani majikan perempuan untuk membuat surat kontrak kerja baru. Pada kesempatan kali ini, saya tegas meminta Pak Zalfi yang interview, karena sebelumnya saya merasa dikecewakan oleh staff sebelumnya.
Alhamdulillah, walau antri lumayan lama tapi tidak mengapa. Saya bisa interview langsung dengan Pak Zalfi. Karena saya udah kenal dengan beliau dan sering ngobrol di kantin Sekolah Indonesia Singapura, 20A Siglap Road. Pak Zalfi juga ustaz di Mushala SIS yang tiap hari minggu mengisi tausiah kepada para Tenaga Kerja Indonesia.
Proses interview sesuai dengan prosedur yang saya harapkan. Ada proses negoisasi tentang hak gaji standar dan lainnya. Setelah itu, pertanyaan seputar KTKLN dan asuransi, perpanjangan paspor bila tidak akan tambah kontrak kerja lagi. Alhasil, lumayan apa yang saya peroleh. Kesempatan ke Batam sambil jalan-jalan pun keturutan.
Penting atau tidak pentingnya KTKLN tapi saya lebih memilih kesempatan baiknya saja. Asuransi setahun Rp 120,000,- tiket ferry $45 perjalanan naik taksi di Batam--jalan-jalan Rp 250,000,- yah, lumayan bila dibayarkan oleh majikan.
Memang tergantung dari individu TKI yang punya pilihan mau membuat KTKLN atau tidak. Dalam obrolan singkat itu, saya temukan waktu yang tidak bisa diulang kembali yaitu; Belajar. Jika saya setelah lulus paket C dan memilih lanjut kuliah, pasti bentar lagi akan wisuda. Namun pada saat itu, keinginan untuk lanjut kuliah belum ada sehingga antara melanjutkan sekarang pun rasanya udah jauh ketinggalan. Ditambah lagi dengan faktor-faktor lain yang saya hadapi.
Maka dari itulah, bagi TKI yang ada hari libur, gunakan waktu sebaik mungkin untuk bisa meng-upgrade keterampilan diri. Belajar diusia tak lagi muda memang penuh tantangan. Semangat terus untuk meningkatkan kualitas diri sebagai Pahlawan Devisa.
[]
Alhamdulillah, walau antri lumayan lama tapi tidak mengapa. Saya bisa interview langsung dengan Pak Zalfi. Karena saya udah kenal dengan beliau dan sering ngobrol di kantin Sekolah Indonesia Singapura, 20A Siglap Road. Pak Zalfi juga ustaz di Mushala SIS yang tiap hari minggu mengisi tausiah kepada para Tenaga Kerja Indonesia.
Proses interview sesuai dengan prosedur yang saya harapkan. Ada proses negoisasi tentang hak gaji standar dan lainnya. Setelah itu, pertanyaan seputar KTKLN dan asuransi, perpanjangan paspor bila tidak akan tambah kontrak kerja lagi. Alhasil, lumayan apa yang saya peroleh. Kesempatan ke Batam sambil jalan-jalan pun keturutan.
Penting atau tidak pentingnya KTKLN tapi saya lebih memilih kesempatan baiknya saja. Asuransi setahun Rp 120,000,- tiket ferry $45 perjalanan naik taksi di Batam--jalan-jalan Rp 250,000,- yah, lumayan bila dibayarkan oleh majikan.
Memang tergantung dari individu TKI yang punya pilihan mau membuat KTKLN atau tidak. Dalam obrolan singkat itu, saya temukan waktu yang tidak bisa diulang kembali yaitu; Belajar. Jika saya setelah lulus paket C dan memilih lanjut kuliah, pasti bentar lagi akan wisuda. Namun pada saat itu, keinginan untuk lanjut kuliah belum ada sehingga antara melanjutkan sekarang pun rasanya udah jauh ketinggalan. Ditambah lagi dengan faktor-faktor lain yang saya hadapi.
Maka dari itulah, bagi TKI yang ada hari libur, gunakan waktu sebaik mungkin untuk bisa meng-upgrade keterampilan diri. Belajar diusia tak lagi muda memang penuh tantangan. Semangat terus untuk meningkatkan kualitas diri sebagai Pahlawan Devisa.
[]
Monday, December 8, 2014
ANTARA DREAM DAN REALITY
Tidak semua tenaga kerja
Indonesia khususnya wanita medapatkan hak-hak dan kewajiban dalam kontrak
kerjanya. Tidak semua TKW juga bernasib sama dalam hal kesempatan dan
keberuntungan. Apakah semua itu memang sudah suratan takdir atau hanya satu
dari alasan kita(nya) yang tidak mau merubah nasib lebih beruntung lagi.
Selama ini
kita banyak melihat dan mendengar bagaimana tatapan sinis terhadap TKW, itu
tidak lepas dari bagaimana orang membuka sudut pandang pikirnya—negatif or
positif.
Pada
kesempatan, Sabtu 6 Desember 2014 saya berkesempatan untuk menghadiri dan
mengisi acara tahunan Singapore Art Festival yang melibatkan tenaga kerja di
Singapura. Pertama kalinya saya melakukan tantangan untuk sebuah tulisan yang
bukan bahasa Indonesia. Sungguh tantangan dan kesempatan luar biasa yang tidak
bisa saya lewatkan sia-sia.
Dengan izin
dari majikan tentunya semua impian dan kenyataan suara saya didenngar oleh
orang non-PRT bisa tersampaikan lewat small pieces. Saya bangga dan terharu
akan satu step perubahan yang saya lakukan. Di sini saya bukan untuk melihatkan
‘Iniloh saya’ tidak, saya hanya ingin berinteraksi dengan orang yang bukan PRT
sehingga sedikit dari mereka melihat harapan-harapan dan impian kalau ‘kita’
domestic worker juga punya hak yang sama dalam melestarikan kesenian yang
mendapatkan tempat yang sama dengan non-dws.
Pada
kesempatan minggu, 7 Desember 2014 saya mengajak dari teman-teman saya untuk
bekerjasama, “Ayok kita pasti bisa” sebuah tulisan yang saya bacakan berupa
dialog monolog menjadi visual nyata dengan peran masing-masing dan gerakan tari
di akhir drama untuk menyatukan kesamaan bahwa kita(dws) bisa bersatu padu jika
harmoni dan kesatuan tercipta dengan baik.
Sempena
ulang tahun HOME (Humanitarian Organization for Migration Economics yang ke-10
kami mengajak semua Domestic workers lebih menjalin erat lagi semangat dan persatuan. Mengerti akan hak
dan kewajiban kita sebagai PRT, meningkatkan skill untuk up-grade our self dan
memperbaiki kualitas kerja kita sebagai PRT di Singapura. Dengan HOME kita bisa
bersatu mewujudkan semua impian dan kenyataan untuk perubahan yang lebih baik
lagi. []
Story of Domestic
Workers (Let’s go Home)
It’s was raining in
the Sunday morning. Siti try to run away from her employer house. She can’t
hold anymore pain. Abuse from her employer for few months when she started to
work.
“I must get away from
this gate. I must run away, even know I do not know where to go. I don’t have
money, what should I do, oh … God please help me ….” She holding her hand with so much pain, she
try to run away.
She walked with limb
on her right leg. And there was some Indonesian Domestic Worker in the park
play together. Siti, looking at them
from a distance. Slowly she approves them and begins to ask.
“Excuse me, are you from Indonesia?” Siti begin to ask.
“Yes, we are from Indonesia,
what happened to you … Oh God .. what happened to your hand, your cheek?” Desi
one of the Indonesian girl was shock when she notice that Siti arm was bleeding
and got blue mark.
“My Mum abuse me, I can not tahan, so I run away,” Siti reply with sad
voice.
“Come I will bring you Home …” said Desi again.
“No, I do not want go home, I need to work for my parent and my little
sister study, I want to change employer …” at first, Siti do not know what HOME
is..
“Don’t worry, is not like what you thinking, Home is organization for
helping worker in Singapore, come … they will help you,” Desi explain to Siti.
So Wati bring Siti to the office HOME in the Lucky Plaza. Many outside
women being abuse by employer but some of them keep in silent. But some of them
run away and seek kelp for justice, freedom. And HOME; Humanitarian Organization
for Migration Economics is one in other for helping Worker’s who need it and we
are like family for each other’s, justice, freedom, dignity, empowering,
encourage, strong, caring. And Siti is just example of Domestic Workers who
find a justice for herself and motivated other Domestic worker’s.
Thank you so much sister Bridget
Tan; the founder of HOME. You are still my hero dan my motivator to believe in
HOPE—JUSTICE—FREEDOM—thank you so much for all your kindness and your love to
all the workers.
~**~
[Bio: Anung Delizta, is from Indonesia. She’s been Singapore
almost 15 years with her employer. During day off she hang-out with friends to
learn something new. She believe in writing can be therapy and open the mindset
of peoples.]
| The Fonder of HOME (Sister Bridget Tan) |
| The Song from Shelter Girls |
| Toss for happiness and United, Hope, Justice and Freedom |
| Singapore WEA CAN-Art Festival |
Thursday, November 27, 2014
TEMU SANTAI DENGAN MENTERI LUAR NEGERI IBU RETNO MARSUDI
Dapat berjumpa
dengan menteri luar negeri tidak semua Tenaga Kerja Indonesia (PRT) bisa setiap
harinya. Bahkan kesempatan bisa bertemu juga tidak semua PRT bisa. Mengingat
bukan pada hari libur di hari minggu. Namun pada kesempatan hari Rabu, 26
November 2014 beberapa PRT yang tergabung dari perwakilan organisasi di
Singapura diberikan kesempatan untuk berbincang dengan menteri luar negeri Ibu
Retno Marsudi yang masih menjabat sebagai duta besar Nether land.
Pada hari ini Kamis, 27 November
beliau berulang tahun dan semoga semakin membaik dalam menjalankan tugas yang
dimandatkan pada beliau. Kesempatan berbincang di KBRI Singapura tentunya
disambut baik oleh PRT yang bisa datang untuk mewakili organisasi yang
dinaunginya.
Acara temu santai dan berbincang
mengenai permasalahan yang banyak dialami oleh tenaga kerja wanita Indonesia di
Singapura, baik dari pra penempatan dan pasca penempatan masih menjadi polemic
PRT semuanya. Masih banyak nasib teman-teman PRT yang tergantung pada nasib
begitu pula dengan majikan. Ada majikan yang baik ada pula PRT yang tidak baik.
Salah satu perwakilan dari Indonesian
Family Network Ibu Ummai Umairoh menyampaikan beberapa point penting terhadap
isu yang masih dihadapi oleh PRT seperti kasus KTKLN dan juga pertemuan dengan
Tifa pada bulan Desember nanti untuk membicarakan Ratifikasi ILO C189 dan juga
penghapusan UU No. 39. Semoga apa yang Ibu Ummai Umairoh sampaikan dapat tersampaikan
kepada presiden RI.
Begitu juga dari perwakilan Pekerja
Indonesia Singapura yang diwakilkan oleh Ibu Mimiez, menyampaikan beberapa
keluhan mengenai kasus PRT yang kurang mendapatkan jatah makanan dan kurangnya
jam istirahat. Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura, Bapak Andri Hadi
menegaskan, jika pihak dari KBRI menelepon majikan sang PRT itu jangan merasa
takut, biasanya ini yang menjadi polemic KBRI juga bila mau membantu PRT yang
bermasalah namun dari PRT sendiri kurang komitment dalam tindakan pengaduannya.
Banyak hal yang harus didiskusikan
namun berhubung waktu yang sangat sempit dan Bu mentri harus terbang, sebagai
kenang-kenangan Pahhlawan Devisa Singapura (Menulis) pemberian buku ‘MENJARING
IMPIAN’ diserahkan dengan menyelipkan surat Ratifikasi ILO C189 untuk Ibu
Menteri dan disaksikan oleh Duta Besar RI untuk Singapura, Andri Hadi. Sebagai
sambutan penutup pembacaan puisi oleh Ibu Titien dari perwakilan grup Srikandi
Indonesia.
Semoga dengan perubahan yang akan
digebrakan oleh para pejabat wanita seperti mentri perikanan Ibu Susi dapat
memberikan gerakan-gerakan yang positif dan memberikan solusi terbaik. Bila
beberapa hari lalu wakil presiden RI Bapak Yusuf Kalla, menyampaikan akan
memberhentikan pengiriman TKW ke luar negeri justru dianggap bukanlah jalan
satu-satunya solusi terbaik. Karena akan menyalahi undang-undang sebagai seorang
warga Negara.
[Singapura, 27/11/2014]
Subscribe to:
Posts (Atom)



































