Thursday, January 21, 2016

TERIMA KASIH TEMAN-DEAR CICIK SUBANDINI

Cicik Subandini: “Anung D’Lizta, memang songong sitik, somplak kadang-kadang dan keras kepala juga ono. Apa adanya malah kadang terlalu, kalau buat orang yang nggak ngerti sifatnya mesti langsung tersinggung.  Berbakat, telaten, tanggung jawab dan punya prinsip, juga ringan tangan.” [Pernah menjuarai beberapa event di grup PDSM]
Mengenalmu adalah anugerah. Dari teman dan teman hingga saling mengenal dengan sebutan teman, entah itu nyata atau bukan. Atau bahkan hanya sekadar teman maya belaka. Namun ada darimu yang ingat dalam relung hatiku. Ketika tahun berganti tahun selama melihat rupamu nan tidak begitu ayu. Tetapi ada parasmu yang menunjukkan daya tarikanmu. Adalah kamu yang apa adanya kamu dalam berteman denganku.
Bisa dibilang bangga atau GR-aku selama ini memperhatikan jalan kariermu sebagai TKW Singapura juga penyanyi. Ah, kalau ingat dulu-dulu, dia adalah jebolan dari grup facebook kecil yaitu Pahlawan Devisa Singapura dalam bidang menyanyi. Kini namamu semakin melebar seantreo dunia maya. Bakatmu terasah dan semakin tajam, tak pantang perjuangan.
Berkat keberanian serta bakat yang mumpuni berbagai audisi menyanyi lebih luas lagi, kamu jalani. Alhamdulillah, banyak kesempatan yang diraihnya. Dari audisi Home Got Talent sesi ke-3, FAST We Got Talent Too, dan juga Audisi Fiesta Post Tki, yang lalu mengantarkanmu pada tingkat lebih jauh lagi. Go masuk teve Suria. Bahkan aku juga mengiringi perjalananmu itu.
Selain menyanyi, yang kuingat darimu adalah prasasti yang pernah kamu ukir dalam buku MSB. Meski kini jarang melihatmu melukis kanvas putih, dan di situlah aku merasakan kehilangan teman sepertimu. Semakin jarang melihatmu menari jemari, aku merasa tak mengenalimu lagi. Kamu semakin jauh berlayar hingga waktu tak menyempatkanmu mampir walau sebentar.
Tapi tidak mengapalah, asalkan ada bagian cerita yang indah di antara kita maupun duka, dalam hatiku sangat merasa kehilanganmu tapi bayangmu senantiasa ada membingkai. Terima kasih telah menjadi teman baikku di Singapura.

GUMAMANKU
Apa ini...?
Bagaimana ini ...?
Ada yang hilang darimu Pertiwiku
Tak lagi sama
Dulu,
Kain batik
Kain ikat
Kain songket
Kain gringsing
Satu ikatan
Menyatu dalam perbedaan
Terayomi kehangatan pelukan para TNI
Bangsapun dengan gagah
Tiada gentar
Tak hanya mengumandangkan
Namun menerapkan isi Sumpah Pemuda
Bukan hanya hafalan anak-anak Sekolah Dasar saja
Apa ini ..?
Bagaimana ini ..?
Hanya mampu bertanya-tanya
Dalam bilik sempit
Diatas ranjang bobrok
Berselimutkan batik lusuh
Peninggalan nenekku
Apa ini ..?
Bagaimana ini ..?
Singapura , 26 Oktober 2014
~**~
GOYANGAN JAMU METAL
PENULIS: CICIK SUBANDINI
Dingin masih terasa menusuk tulang, disaat aku turun dari angkutan umum jurusan Ambarawa - Bandungan. Kugendong bakul jamuku, melangkah dengan penuh harap, jamuku laris dan bisa pulang cepat.Terbayang wajah putriku yang masih belum genap 1 tahun. Penyemangat hidup, yang membuat kakiku tak lelah 'tuk melangkah. Dengan bersenandung kecil,aku memasuki kampung dimana aku biasa berkeliling menjajakan daganganku. Ada juga keuntungan mempunyai hobby menyanyi, setidaknya bisa menghibur diri sendiri. Langkahku dan senandungku serentak berhenti, disaat aku mendengar suara memanggilku.
"Dik, Jamu..!! "
[Buku Membangun Semangat Berkarya-2015]

#Ahh, aku rindu goresan jemarimu. Mohon maaf lahir dan batin. []


 Cicik & Me at; Home Got Talent 

 Cicik Juara Menyanyi & Puisi 

 Buku MSB 

MASIHKAH AKU MENJADI PENANTANG MIMPI?

Semalam, 20 Januari 2016 aku mengirimkan pertanyaan untuk meminta pendapat kejujuran dari beberapa teman-teman yang aku anggap sangat berpengaruh besar dalam prosesnya aku di sini. Memang sangat mencekam seperti ikutan uji nyali di tempat-tempat angker. Ah, bukankah kejujuran itu kadang menyakitkan, tapi tidak apalah, aku lakoni saja.

Sambil menunggu jawaban kejujuran teman-teman aku sambi menulis untuk dikirim ke beberapa lomba. Gusar hatiku sampai-sampai rasa lapar naik tiga kali lipat. Baru menulis judul naskah, perutku bergoyang ria. Akhirnya kuangkat pantat dan menuju ke dapur. Tidak ada makanan ringan yang bisa kucemil, hanya ada buah plam. Ah, itupun tak mengapa.

Aku kembali ke kamar. Mengintip layar facebook, harap-harap cemas membaca jawaban kejujuran dari teman-teman yang sudi jujur padaku. Ada yang memberikan jawaban kejujuran pendek, panjang, bahkan sampai ada yang terklepek-klepek karena kupanggil 'dear', ternyata sebutan itu juga berpengaruh. Dan aku ada sempat membalas jawaban kejujuran dari salah satu admin PDSM. Sebut saja namanya 'W' kami berinteraksi karena aku paham siapa dia, yang cukup bisa atraktif dalam berpendapat.

Seperti ada rasa nyeri, tapi tidak apa-apalah, toh aku sendiri yang meminta kejujuran :) Usut-diusut, waktu terus bergulir, hingga aku ketinggala satu deatline lomba puisi, ahhh, sialan, aku terlalu menyepelekan kata 'nanti' dan 'nanti', dan akhirnya aku ketinggalan.

Baiklah, terlepas membahas lomba, aku ingin mengatakan pada teman-temanku semuanya. Sisi-sisi dalam diriku baik maupun buruk, pasti selalu ada, karena aku bukanlah manusia suci atau manusia sempurna. Aku kadang pun merasa aneh dengan diri sendiri, atau mungkin sulit percaya pada seseorang, hingga ada yang beranggapan, "I can do it". Sehingga apa pun yang kulakukan, dianggapnya, semuanya sendiri. Ih, tidak apalah, aku memang tidak sedang berlomba-lomba mencari pengalaman, hanya silahturahmi dan bentuk kerjasama yang baik, toh rasanya memang penuh tantangan dan pengorbanan.

Aku menatap kalender di HP jadulku. Ah, hari-hari itu semakin dekat sekali. Aku harus meninggalkan Singapura, as soon as posible, hehehhe. Sedih pastinya, namun bahagia diharapkan. Semua urusan dengan teman-teman bisa aku selesaikan dengan baik dan tanpa meninggalkan tanggungan itu yang aku harapkan. Bahkan aku bertanya pada teman yang ngutangin pulsa/online shop, jika aku masih punya tanggungan harap diingatkan. Aku ingin pulang tanpa beban hutang atau ada tanggungan yang belum terselesaikan.

Untuk teman-temanku di Singapura, ayoklah MENULIS, jangan MATI JEMARI. Dikoordinir lebih baik lagi PDSM agar terus HIDUP. Aku pasti akan sangat bersedih jika dunia literasi TKW Singapura pupus, tanpa penerus yang lebih baik dan lebih ulet daripada aku. Jangan pernah terus mengukir karya. Aku memohon kesadaran hati teman-teman. Kalian, pasti bisa. Jangan merasa puas dengan satu hasil, terus jadi orang yang tidak pernah puas dalam berkarya. Namun jangan lupa tetap bersyukur. Mintalah pada Tuhan, agar mengingatkan hati dan pikiran kita untuk suatu kebaikan.

Insya Allah, jika aku sudah di Indonesia dan membina keluarga mungil, aku ada untuk kamu. Pokoknya, inisitif tidak melulu bertanya dan bergantung pada orang lain. You can do it, girls. I believe.

Terima kasih telah menjadi bagian hidupku. I love you.





Wednesday, January 20, 2016

Tentang Persiapan Tari Tualang Tiga #FIESTAPOSTTKI

About Us.
Saya rasa ini bukan suatu kegelisahan. Melainkan suatu rasa yang sulit dijabarkan. Bagaimana tidak, kami bukanlah sebuah kumpulan penari yang pandai. Terlebih kami berlatih sendiri. Itulah kami dari grup Ratu Pahlawan Devisa Singapura, dimana kami basicnya adalah menulis. Namun suatu cabaran untuk melangkah keluar zona aman. Turut andil dalam audisi #fiesta PosTki pada bulan Oktober 2015.

Suatu keberuntungan bahwa grup kami (PDSM) bisa lolos ke babak final, dimana jenis tarian baru diberikan kepada kami. Perjuangan serta pengorbanan, waktu, materi dan tenaga kami curahkan sepenuhnya untuk kelancaran di atas panggung.

Tepatnya pada tgl 13 Desember 2015 kami baru didengarkan musik yang akan kami bawakan yaitu; Tari Tualang Tiga. Awalnya saya merasa tidak kesulitan karena sebelumnya, lagu tersebut akan kami persembahan pada saat audisi, namun karena suatu sebab maka saya putuskan menari What I've Done versi remix. Dengan original 4 penari dan 1 baca puisi. Lucu sih, awal komentar kami terkesan norak kaya hantu, namun itu bisa menjadi jargon semangat kami. Bahwa kami tidak gentar dikomentari apa pun itu.

Beberapa gerakan sempat ditolak, kami berpikir cepat dan mengenali musiknya terlebih darhulu sebelum akhirnya kami bisa menari dengan lebih baik. Musik baru dan pemikiran baru. Dan tgl 20 Desember 2015 waktu rehersal di Kembangan CC, kami persiapkan sebaik mungkin. Walau kami  siap tidak siap, karena saya juga tidak pernah latihan karena musik tidak punya, hanya melalui vidio yang musiknya kurang jelas.

Kami berkumpul di Kembangan CC pagi sekali sekitar pukul jam 8am, kami bermake-up dan sedikit melakukan pemanasan. Rehersal berjalan dengan baik walau masih ada beberapa gerakan dadakan yang belum kami kuasai. Sehingga saat ada istrirahat kami berlatih di luar ruangan. Lelah, lapar, pusing, ngantuk menjadi satu. Sehingga salah satu teman kami membeli kopi :)

Melalui rehersal itulah, kamu mantapkan gerakan dan barisan. Bisa tidak bisa kami belajar semaksimal mungkin. Apalagi nanti hasilnya akan dilihat orang banyak di kaca televisi lokal Singapura. Dan itulah yang saya harapkan, teman-teman bisa kompak, bila ada masalah belum jelas, bisa diutarakan agar tidak terjadi salah paham.

Dengan selesainya persembahan PDSM; Tari Tualang Tiga dengan penyanyi; Tian Dewi Susanti, Cicik Subandini dan Noer Vian, akan menjadi catatan sejarah baru awal mula TKW Singapura semakin kompak dan bekerjsama dengan baik. Bisa menjadi contoh baik untuk re-generasi teman-teman dalam berkarya. Tanpa adanya kekompakan, tidak akan terjalin keharmonisan di depan panggung.

Jujur, hati saya berdebar ingin melihat bagaimana penampilan kami di kaca televisi Suria pada, 22 Januari 2016 pukul 8.30pm. Jangan lupa nantikan kami. Dan tunggu bagaimana kisah di balik panggung.
:)

Salam perubahan untuk kebaikan;
Anung D'Lizta





Tuesday, October 27, 2015

BEKERJA, BELAJAR DAN BERKARYA-POS TKI UNTUK TKI

Minggu, 25 Oktober 2015 bertempat di Kampung Kembangan CC Pos TKI kembali menggelar acara pementasan untuk para Tenaga Kerja Indonesia di Singapura. Acara yang diberia nama Fiesta Pos Tki ini dihadiri oleh ratusan TKW Singapura. Tahun ini Pos Tki menyuguhkan acara yang lain daripada sebelumnya. Selain acara audisi persembahan dari peserta semuanya TKW, acara puncak akan diselenggarakan di stasiun TV tempatan Singapura pada tanggal 17 Januari 2016.

Selain bekerja dan belajar, para TKW ini juga bisa menunjukan bakat-bakat yang ada, seperti menyanyi, menari, fashion dan masih banyak lagi lainnya. Semangat para TKW ini memang harus diapresiasi bersama dan melihatkan sisi-sisi positf dari Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri.

Mereka bisa menunjukan pada dunia bahwa selain bekerja, namun mereka memanfaatkan hari liburnya untuk aktifitas yang lebih bermanfaat. Kesempatan baik di hari libur untuk menimba ilmu dan menambah pengalaman selama mereka bekerja jauh dari keluarga. Sehingga kelak kontrak selesai mereka tidak ragu lagi untuk pulang dan bisa membuka usaha.

Pos TKI adalah jasa pengiriman barang ke Indonesia. Sudah lebih dari sepuluh tahun Pos TKI membantu para TKI di Singapura dalam mengirimkan barang ke kampung halaman. Kepercayaan yang luar biasa dan bisa dipercaya. 

Terima kasih untuk Pos Tki yang selalu menyediakan ruang untuk para TKW Singapura berkarya.

What I’ve done 
Hiii ratu pahlawan devisa 
Kami bekerja, belajar dan berkarya
Membangun dan menimba ilmu
Untuk negeri kami tercinta 
Bersama Pos Tki
And What I have done 
Setumpuk prestasi bukan menyombongkan diri 
Tiada batas umur meraih mimpimimpi
Bersama pahlawan devisa singapura 
Aku, kamu, kita pasti bisa!
Pulang membawa bekal ilmu dan bekal diri 
Majulah para TKI! 
~*~
Tunggu apalagi, 
Jangan ragukan lagi
Pos Tki semakin di hati 
Menjadi pilihan paling baik
Singapura__Indonesia 
Berlayarlah kapal sampai tujuan
Kirimkan barang tanpa menunggu bulan 
Sampai di depan rumah hati gembira 
Nomor teleponnya jangan terlupa 
62974805


Salam Sukses Selalu.
Anung D’Lizta
Koordinir Grup Pahlawan Devisa Singapura Menulis




Monday, September 14, 2015

BATIK BREBES HIDUPKAN INDONESIA DI SINGAPURA

BATIK BREBES HIDUPKAN INDONESIA DI SINGAPURA

Bagi pecinta batik Indonesia, memang tidak asing lagi. Pagelaran fashion dengan tema batik sangat disukai oleh orang Indonesia maupun mancanegara. Seperti Juniar Hairudin yang menggelar event pada 13 September 2015 bertempat di Siglap South Community Centre berhasil dimeriahkan oleh peserta lomba Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dalam sektor rumah tangga.

Acara tersebut juga didukung oleh Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE memberikan dukungan sepenuhnya atas terselenggaranya acara tersebut. Mrs. Sabrina Samri; Mrs Malays International 2015. Linda Ma'arof; Mrs  Singapore Malays International 2015. Saripa Atmari; Ms Singapore Malays Internatiomal 2014 dan juga Ibu Julia Jahya mantan artis dan model Indonesia serta Ibu Widi Purnomowulan dari Persatuan Wanita Indonsia Singapura.

Dukungan dari  jasa pengiriman barang Pos TKI, 2A Dream Publishing, Toa Payoh West CC, serta sederet komunitas maupun persatuan pendukung acara JUNIAR HAIRUDIN COLLECTION EVENT.

Acara digelar mulai dari pukul 11 pagi disaksikan ratusan Tenaga Kerja Indonesia di Singapura. Kemeriahan pameran batik show juga menampilkan lagu-lagu kenangan era 80-an oleh peserta lomba karaoke. Tak meninggalkan teman-teman muslimah, pada hari itu juga diadakan lomba fashion tema muslimah.

Terlihat antusias dari semua peserta lomba. Moment yang dinanti-nantikan hampir tiga bulan persiapan merancang kreatifitas batik Brebes-Salem. Kreatifitas dan bakat yang harus dibanggakan dalam mencintai batik Indonesia. Dari 40 peserta batik Brebes menghidupkan panggung Siglap South Community Centre.

Dengan semakin banyaknya fashion-fashion yang membawa tema CINTA INDONESIA diharapkan bisa menghidupkan kearifan budaya Indonesia di Negara lain, bukan hanya di Singapura saja. Di Indonesia pun harus tahu bahwa di luar negeri batik pun sangat dicintai.

Semoga karya-karya para Pahlawan Devisa Singapura bisa dikenal di Indonesia juga bukan hanya saja di Singapura saja. Karena di hari libur mereka para TKW Singapura bisa berkarya dan membawa nama harum Indonesia, sehingga masyarakat di Indonesia perlu tahu hal-hal positif dari anak bangsa Indonesia di luar negeri.

Juara 1 Quenn of Batik Brebes 2015 ialah Dina Mariati, TKW Singapura asal Jawa Timur. Bagi Tasya (nama akrabnya) bukan hal baru lagi mengikuti ajang fashion di Singapura. Ia sering mengikuti pelbagai lomba fashion dan sering menggondol penghargaan.
“Banyak hal yang harus saya utarakan, bukan cuma saya ikut berpartisipasi di fashion. Tapi saya sangat mencintai Indonesia dan budaya Indonesia salah satunya Batik. Senang sekali bangga tentunya bisa memenangkan Ratu Batik dan saya ingin generasi penerus nanti ikut melestarikan batik dan mengembangkan. Membuat batik membutuhkan waktu sekitar 10-15 hari dan bukanlah waktu yang tidak lama maka dengan ini patut kita banggakan. Kembangkan, lestarikan, pamerkan dan pegang supaya budaya batik tidak diambil alih oleh negara asing karena batik sudah ada yang mengcopy di negara lain dan yang paling menyolok dan kelihatan aslinya adalah batik dari Indonesia.” Ucap Tasya.


Diharapkan banyak media-media yang melirik kegiatan positif TKW di luar negeri bukan hanya di Singapura saja, supaya budaya Indonesia bisa dilihat dan dilestarikan bersama. (Singapura, 14/9/2015)



Thursday, April 16, 2015

KESEMPATAN ITU ADA JIKA BERUSAHA

15 April 2015, kedua langkah siap untuk menuju ke KBRI Singapura. Ditemani majikan perempuan untuk membuat surat kontrak kerja baru. Pada kesempatan kali ini, saya tegas meminta Pak Zalfi yang interview, karena sebelumnya saya merasa dikecewakan oleh staff sebelumnya.

Alhamdulillah, walau antri lumayan lama tapi tidak mengapa. Saya bisa interview langsung dengan Pak Zalfi. Karena saya udah kenal dengan beliau dan sering ngobrol di kantin Sekolah Indonesia Singapura, 20A Siglap Road. Pak Zalfi juga ustaz di Mushala SIS yang tiap hari minggu mengisi tausiah kepada para Tenaga Kerja Indonesia.

Proses interview sesuai dengan prosedur yang saya harapkan. Ada proses negoisasi tentang hak gaji standar dan lainnya. Setelah itu, pertanyaan seputar KTKLN dan asuransi, perpanjangan paspor bila tidak akan tambah kontrak kerja lagi. Alhasil, lumayan apa yang saya peroleh. Kesempatan ke Batam sambil jalan-jalan pun keturutan.

Penting atau tidak pentingnya KTKLN tapi saya lebih memilih kesempatan baiknya saja. Asuransi setahun Rp 120,000,- tiket ferry $45 perjalanan naik taksi di Batam--jalan-jalan Rp 250,000,- yah, lumayan bila dibayarkan oleh majikan.

Memang tergantung dari individu TKI yang punya pilihan mau membuat KTKLN atau tidak. Dalam obrolan singkat itu, saya temukan waktu yang tidak bisa diulang kembali yaitu; Belajar. Jika saya setelah lulus paket C dan memilih lanjut kuliah, pasti bentar lagi akan wisuda. Namun pada saat itu, keinginan untuk lanjut kuliah belum ada sehingga antara melanjutkan sekarang pun rasanya udah jauh ketinggalan. Ditambah lagi dengan faktor-faktor lain yang saya hadapi.

Maka dari itulah, bagi TKI yang ada hari libur, gunakan waktu sebaik mungkin untuk bisa meng-upgrade keterampilan diri. Belajar diusia tak lagi muda memang penuh tantangan. Semangat terus untuk meningkatkan kualitas diri sebagai Pahlawan Devisa.

[]

Monday, December 8, 2014

ANTARA DREAM DAN REALITY

Tidak semua tenaga kerja Indonesia khususnya wanita medapatkan hak-hak dan kewajiban dalam kontrak kerjanya. Tidak semua TKW juga bernasib sama dalam hal kesempatan dan keberuntungan. Apakah semua itu memang sudah suratan takdir atau hanya satu dari alasan kita(nya) yang tidak mau merubah nasib lebih beruntung lagi.

            Selama ini kita banyak melihat dan mendengar bagaimana tatapan sinis terhadap TKW, itu tidak lepas dari bagaimana orang membuka sudut pandang pikirnya—negatif or positif.

            Pada kesempatan, Sabtu 6 Desember 2014 saya berkesempatan untuk menghadiri dan mengisi acara tahunan Singapore Art Festival yang melibatkan tenaga kerja di Singapura. Pertama kalinya saya melakukan tantangan untuk sebuah tulisan yang bukan bahasa Indonesia. Sungguh tantangan dan kesempatan luar biasa yang tidak bisa saya lewatkan sia-sia.

            Dengan izin dari majikan tentunya semua impian dan kenyataan suara saya didenngar oleh orang non-PRT bisa tersampaikan lewat small pieces. Saya bangga dan terharu akan satu step perubahan yang saya lakukan. Di sini saya bukan untuk melihatkan ‘Iniloh saya’ tidak, saya hanya ingin berinteraksi dengan orang yang bukan PRT sehingga sedikit dari mereka melihat harapan-harapan dan impian kalau ‘kita’ domestic worker juga punya hak yang sama dalam melestarikan kesenian yang mendapatkan tempat yang sama dengan non-dws.

            Pada kesempatan minggu, 7 Desember 2014 saya mengajak dari teman-teman saya untuk bekerjasama, “Ayok kita pasti bisa” sebuah tulisan yang saya bacakan berupa dialog monolog menjadi visual nyata dengan peran masing-masing dan gerakan tari di akhir drama untuk menyatukan kesamaan bahwa kita(dws) bisa bersatu padu jika harmoni dan kesatuan tercipta dengan baik.

            Sempena ulang tahun HOME (Humanitarian Organization for Migration Economics yang ke-10 kami mengajak semua Domestic workers lebih menjalin erat  lagi semangat dan persatuan. Mengerti akan hak dan kewajiban kita sebagai PRT, meningkatkan skill untuk up-grade our self dan memperbaiki kualitas kerja kita sebagai PRT di Singapura. Dengan HOME kita bisa bersatu mewujudkan semua impian dan kenyataan untuk perubahan yang lebih baik lagi. []


Story of Domestic Workers (Let’s go Home)

It’s was raining in the Sunday morning. Siti try to run away from her employer house. She can’t hold anymore pain. Abuse from her employer for few months when she started to work.
“I must get away from this gate. I must run away, even know I do not know where to go. I don’t have money, what should I do, oh … God please help me ….”  She holding her hand with so much pain, she try to run away.
She walked with limb on her right leg. And there was some Indonesian Domestic Worker in the park play together.  Siti, looking at them from a distance. Slowly she approves them and begins to ask.
“Excuse me, are you from Indonesia?” Siti begin to ask.
 “Yes, we are from Indonesia, what happened to you … Oh God .. what happened to your hand, your cheek?” Desi one of the Indonesian girl was shock when she notice that Siti arm was bleeding and got blue mark.
“My Mum abuse me, I can not tahan, so I run away,” Siti reply with sad voice.
“Come I will bring you Home …” said Desi again.
“No, I do not want go home, I need to work for my parent and my little sister study, I want to change employer …” at first, Siti do not know what HOME is..
“Don’t worry, is not like what you thinking, Home is organization for helping worker in Singapore, come … they will help you,” Desi explain to Siti.
So Wati bring Siti to the office HOME in the Lucky Plaza. Many outside women being abuse by employer but some of them keep in silent. But some of them run away and seek kelp for justice, freedom. And HOME; Humanitarian Organization for Migration Economics is one in other for helping Worker’s who need it and we are like family for each other’s, justice, freedom, dignity, empowering, encourage, strong, caring. And Siti is just example of Domestic Workers who find a justice for herself and motivated other Domestic worker’s. 
Thank you so much sister Bridget Tan; the founder of HOME. You are still my hero dan my motivator to believe in HOPE—JUSTICE—FREEDOM—thank you so much for all your kindness and your love to all the workers.

~**~
[Bio: Anung Delizta, is from Indonesia. She’s been Singapore almost 15 years with her employer. During day off she hang-out with friends to learn something new. She believe in writing can be therapy and open the mindset of peoples.]  

 
Anung D'Lizta (The Writer 'Let's Go Home)--Rindu Citra Muztika (The 1 of the actress) 

The Fonder of HOME (Sister Bridget Tan)


The Song from Shelter Girls 


Toss for happiness and United, Hope, Justice and Freedom 

Singapore WEA CAN-Art Festival